Sekolah adalah pabrik?

Sampai sekarang, Indonesia belum menemukan kesepakatan soal model pendidikan karakter. Salah satu model yang patut dipertimbangkan adalah sistem pembelajaran karakter yang diusulkan oleh anggota tim pakar Yayasan Jati Diri Bangsa Gede Raka. Dia menekankan bahwa pendidikan karakter di sekolah memerlukan perubahan cara pandang.

Menurut Gede Raka, peneliti pendidikan karakter dan juga guru besar Institut Teknologi Bandung, kita perlu menjauhi cara pandang yang memperlakukan sekolah sebagai pabrik. Dalam pandangan ini, pabrik sekolah memproduksi lulusan yang kualitasnya diukur melalui nilai ujian nasional, mempekerjakan “mesin” bernama guru, dan menggunakan sistem produksi bernama kurikulum.

Di dalam sistem produksi, karakter bukan hal penting. Mesin, sistem produksi, dan produk adalah hal-hal pasif tanpa karakter, tanpa aspirasi, dan tanpa inisiatif. Dengan demikian, cara pandang sekolah sebagai pabrik bukan cara pandang yang sesuai untuk pendidikan karakter.

Cara pandang sekolah sebagai komunitas, terutama komunitas pembelajaran, adalah konsep yang sesuai bagi pengembangan karakter. Komunitas bukan semata-mata sekumpulan orang. Komunitas adalah sekelompok orang yang dipersatukan oleh tata nilai.

Menurut Aristoteles, tata nilai moral adalah pilar dari kekuatan karakter. Tata nilai, demikian pula karakter, tercermin melalui perilaku seseorang dalam interaksi sosialnya. Sebagai bagian dari komunitas, guru, siswa, dan orangtua adalah anggota dengan peran dan tangung jawab masing-masing. Rasa saling percaya, saling menghormati, kesediaan untuk berbagi, dan aspirasi bersama menjadi penting.

Di samping cara pandang sekolah sebagai komunitas belajar, pendidikan karakter memerlukan pandangan bahwa setiap siswa adalah tunas yang memiliki potensi berbeda. Karakter memiliki kemajemukan dimensi, seperti kreativitas, keingin-tahuan, keberanian, kegigihan, kejujuran, rasa kasih sayang, kebaikan hati, adil, kepemimpinan, dan lain-lain.

Pelbagai dimensi karakter berpadu dan disalurkan melalui berbagai bentuk. Selain kemajemukan dimensi, karakter tumbuh sejak usia dini. Contohnya, interaksi antara ibu dan bayi adalah tahap awal pengembangan karakter kasih sayang. Hubungan dengan saudara, adik atau kakak, di masa kecil dapat menempa karakter keluhuran hati. Maka, usaha mengembangkan karakter tidak dapat bertumpu pada pandangan bahwa para siswa adalah “bahan baku” seragam yang akan berharga setelah diolah.

Karena siswa adalah tunas yang berbeda, tugas utama sekolah adalah mengenali potensi setiap siswa. Guru berperan besar dalam mengidentifikasi dan mengembangkan potensi siswa. Dalam usaha mengembangkan potensi, penyeragaman proses pembelajaran yang berlebihan dapat menghalangi tumbuhnya keunggulan siswa karena potensi yang beragam kerap membutuhkan bentuk dukungan berbeda.

Guru dapat mengenali dan mengembangkan potensi siswa yang beragam dengan menggunakan cara pandang kecerdasan majemuk, yang dikembangkan oleh psikolog Harvard Howard Gardner. Siswa yang pandai matematika adalah siswa unggul; demikian pula siswa yang pandai melukis, menyanyi, atau berbahasa.

Dengan menggunakan keunggulannya masing-masing, siswa memiliki potensi untuk mandiri dan membawa manfaat bagi masyarakat ketika mereka memasuki dunia kerja.