Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Ada sebuah ungkapan yang menyebutkan bahwa kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya, bukan sumber daya alamnya. Kalau kita renungkan, ungkapan tersebut tidaklah salah. Coba lihat saja Negara Jepang, Singapura, Korea Selatan lainnya. Memang, mereka tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah –sebagaimana yang dimiliki Indonesia, namun nyatanya mereka mampu menjadi negara maju dan menjadi salah satu ‘raksasa’ ekonomi dunia.

Ada yang percaya bahwa untuk membangun sebuah bangsa yang maju dan besar dibutuhkan infrastruktur yang memadai, ada yang menganggap bahwa untuk mewujudkan bangsa yang maju harus membangun pemerintahan yang bersih terlebih dahulu, ada juga yang percaya bahwa untuk mewujudkan bangsa yang besar dan maju harus membangun kualitas manusianya terlebih dahulu, yakni dengan mendidik penduduknya tersebut dengan pendidikan yang berkualitas. Itu sah-sah saja.

Kalau kita cermati, negara-negara maju yang ada saat ini pasti memiliki sistem pendidikan yang bagus dan berkualitas tinggi. Lihat saja Amerika, Cina, Jepang, Korean Selatan, Jerman, Perancis, dan lainnya. Pendidikan menjadi pilar utama untuk menopang sebuah peradaban suatu bangsa. Karena sekaya apapun negerinya, seluas apapun wilayahnya, dan sebanyak apapun penduduknya namun kalau tidak dikelola dengan baik dan benar maka potensi tersebut malah akan menjadi beban. Dan pendidikan menjadi peran yang signifikan dalam mengelola potensi-potensi yang ada tersebut.

Kalau kita telisik peradaban-peradaban masa lalu seperti Babilonia, Mesir Kuno, Yunani, Romawi, Bizantium, dan Islam, semuanya dibangun dengan ilmu pengetahuan. Bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi tentu tidak akan terlepas dari pengetahuan. Bangsa-bangsa tersebut tentu menyadari bahwa pendidikan dan pengetahuan menjadi kunci utama, sehingga dengan demikian mereka sangat memperhatikan kualitas pendidikannya.

Untuk membangun pendidikan yang baik dan berkualitas tentu harus memperhatikan beberapa aspek diantaranya adalah sistem yang diterapkan harus selaras dengan karakter dan tujuan bangsa, kualitas guru yang baik, kurikulum yang tepat, sarana-prasarana dan bahan ajar yang memadahi, mendorong peserta didik untuk bereksplorasi, serta meningkatkan kualitas peserta didiknya sendiri. Tentu setiap aspek tersebut terkait satu dengan yang lainnya dan harus memiliki sinkronitas. Kalau setiap elemen tersebut sudah terbangun dengan baik dan selaras, maka sistem pendidikan yang berkualitas akan terbangun.

Perlu diperhatikan pemerintah bahwa tujuan pendidikan bukanlah untuk menjawab soal-soal yang diujikan, bukan untuk melewati ujian semata, bukan pula untuk tinggi-tinggian nilai. Namun yang harus pemerintah tekankan adalah bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia; bagaimana pendidikan membentuk karakter peserta didik, menghargai setiap potensi yang dimiliki peserta didik, mendorong peserta didik untuk mengenal dirinya dan lingkungannya, mengajak peserta didiknya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki bangsanya, dan mengadaptasi sistem dan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan karakter bangsanya sendiri. Bukan mengadopsi dari sistem dari luar yang tidak sesuai. Apalagi menerapkan sistem pendidikan yang tidak sesuai dengan karakteristik daripada masyarakat yang ada.

Memang, membangun pendidikan tidak lah semudah membalikkan telapak tangan. Finlandia membutuhkan waktu dua puluh sampai tiga puluh tahun untuk membangun sistem pendidikannya hingga menjadi yang terbaik di dunia sebagaimana yang kita saat ini. Dari Finlandia, kita bisa tahu bahwa tidak hanya butuh waktu yang cukup lama untuk membangun pendidikan yang baik dan berkualitas, namun juga pemerintahan, parlemen, para elit politik, pihak-pihak yang terlibat di dunia pendidikan bahkan sampai masyarakat pun harus terlibat dalam membangun pendidikan yang baik dan berkualitas. Masyarakat harus menyampaikan aspirasinya, sedangkan para pemegang kebijakan harus memperhatikannya sehingga kebijakan yang mereka keluarkan selaras dengan situasi dan kondisi yang ada di masyarakat.

Kita tidak harus mencontoh persis sistem pendidikan Finlandia, karena kita memiliki sifat dan karakter bangsa yang berbeda. Yang harus kita contoh adalah semangat dan aksi nyata dari Finlandia dalam mewujudkan pendidikan yang terjangkau dan berkualitas. Perlu kita sadari bahwa membangun pendidikan adalah memangun bangsa itu sendiri, karena kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya, bukan sumber daya alamnya.

Penulis adalah Wakil Sekjen Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Pusat.

Oleh A. Muchlishon Rochmat
sumber : nu online

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.