Saya Dewi Nuraini sebagai staf Tata Usaha dan Pustakawan di Sekolah Menengah Pertama Islam Harapan Ibu Pondok Pinang akan bercerita mengenai apa program baru sekolah demi membangun tradisi literasi di sekolah ini.

Program baru pojok literasi yang berisi sekitar 24 buku fiksi maupun non fiksi pada setiap rak buku di sudut ruangan terbuka di sekolah. Program yang sedang digadangkan dengan giat oleh SMP Islam Harapan Ibu Pondok Pinang Jaksel, dimaksudkan untuk menumbuhkan minat baca serta melek literatur disaat anak-anak didik jaman sekarang telah lebih dulu melek internet seperti kecanduan dalam mengakses media sosial atau game online. Sangat menyedihkan pula apabila mereka lebih memilih internet sebagai sumber informasi pembelajaran dari pada buku yang ada di perpustakaan. Hadirnya pojok literasi yang menjadi sarana cepat akses buku-buku bacaan supaya mereka “terpaksa” untuk terbiasa melihat buku-buku bacaan. Inilah menjadi ide awal pihak sekolah sebagai upaya untuk memperkenalkan manfaat literasi untuk anak didik. Dengan begitu anak yang terbiasa melihat buku bacaan diharapkan lama-kelamaan akan tumbuh minat baca dan dengan sendirinya akan memilih
bahan bacaan yang diminati.

Pojok literasi terealisasikan dalam kurang dari 4 hari dengan digagas oleh Kepala Sekolah ibu Endriarti Mangyusari dan bantuan kerja sama semua guru, pustakawan, dan karyawan. Saya sebagai pustakawan membantu menyiapkan buku-buku yang telah didata terlebih dahulu kemudian mendistribusikan ke rak yang berada pada pojok – pojok literasi.
Kepedulian mereka atas masa depan anak didik tidak hanya menghasilkan satu pojok literasi, melainkan dua pojok literasi utama dan pojok-pojok literasi pada setiap kelas 7,8,dan 9. Pada hari selasa dan kamis adalah hari literasi untuk semua siswa, siswa dibimbing langsung oleh setiap guru dan diberikan waktu untuk membaca selama 20 menit pada pojok-pojok literasi maupun perpustakaan. Selesai membaca mereka dapat menuliskan judul buku terakhir apa yang mereka baca dengan menuliskannya pada pohon literasi yang telah disediakan. Pohon
literasi dapat menjadi tolak ukur bacaan apa yang menjadi popular dikalangan siswa Harapan Ibu.

Sejak pojok literasi didirikan, manfaatnya sudah dapat dirasakan karena meningkatnya minat baca siswa seperti peningkatan peminjaman buku perpustakaan yang lebih banyak dari minggu-minggu sebelumnya walau belum secara signifikan. Beda halnya dengan waktu lalu, tidak adanya pojok literasi dan perpustakaan belum diperdayakan secara maksimal, masih banyak buku yang tidak berada pada rak yang seharusnya sesuai sistem klasifikasi yang telah ditetapkan, itu menjadi bahan utama mengapa perpustakaan lebih sepi pengunjung dari pada sekarang, berbeda dengan saat ini buku-buku perpustakaan menjadi lebih tertata rapi sesuai klasifikasi subjek dan rak yang seharusnya, anak didik jadi sedikit lebih tau rak mana yang akan mereka tuju untuk mendapatkan bahan bacaan yang mereka inginkan, sistem temu kembalipun menjadi efisien dan efektif. Begitulah cerita tentang program baru sekolah Harapan Ibu, saya pribadi mengharapkan program positif ini menjadi sarana yang efektif dan berkelanjutan bagi siswa dalam memulai menjalankan tradisi literasi. Salam literasi !!

-dewi-